Terima Kasih Atas Kunjungannya

Selamat datang bagi semua pengunjung di blog Catatan Wahidah, semoga apa yang saya sajikan disni dapat bermanfaat bagi Anda Semua !!!.
Latest Products
Abaikan Saja

Abaikan Saja


Bismillah ..,

Abaikan Saja ... :)
♥ ABAIKAN SAJA ♥

Yang cakep wajahnya memang banyak..

Tapi yang cakep hatinya tidaklah seberapa..

Yang cantik parasnya juga masih banyak..

Tapi yang cantik budi pekertinya
tidaklah seberapa..

Yang mau mencintai juga banyak..

Tapi yang benar-benar menyayangi
tidaklah seberapa..

Yang suka memuji setinggi langit juga masih banyak..

Tapi yang mau memuliakan tidaklah
seberapa.
Yang tetap merayu-rayu juga tak kalah banyak..

Tapi yang tulus mau menasehati
tidaklah seberapa.
Yang sekedar ngajak pacaran juga
sangat banyak..

Tapi yang tulus mau menghalalkan
sebuah hubungan mereka masih
enggan dengan alasan bermacam-macam..

Intinya...??

Jika ada yang hadir dalam hidup kita
dan hanya mau mempermainkan
perasaan dan hati kita..

Jalan terbaik adalah ABAIKAN SAJA dia..

Bismillah ..,

Abaikan Saja ... :)
♥ ABAIKAN SAJA ♥

Yang cakep wajahnya memang banyak..

Tapi yang cakep hatinya tidaklah seberapa..

Yang cantik parasnya juga masih banyak..

Tapi yang cantik budi pekertinya
tidaklah seberapa..

Yang mau mencintai juga banyak..

Tapi yang benar-benar menyayangi
tidaklah seberapa..

Yang suka memuji setinggi langit juga masih banyak..

Tapi yang mau memuliakan tidaklah
seberapa.
Yang tetap merayu-rayu juga tak kalah banyak..

Tapi yang tulus mau menasehati
tidaklah seberapa.
Yang sekedar ngajak pacaran juga
sangat banyak..

Tapi yang tulus mau menghalalkan
sebuah hubungan mereka masih
enggan dengan alasan bermacam-macam..

Intinya...??

Jika ada yang hadir dalam hidup kita
dan hanya mau mempermainkan
perasaan dan hati kita..

Jalan terbaik adalah ABAIKAN SAJA dia..
Abaikan Saja
Selengkapnya
Anak Unta

Anak Unta


Bismillah...,

Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya.

Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”.

Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang seki
ranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”

Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta”

Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah.

(Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)

# NWS :)

Bismillah...,

Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya.

Rasulullah berkata: “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”.

Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang seki
ranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”

Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta”

Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah.

(Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)

# NWS :)
Anak Unta
Selengkapnya
Aku Anak Siapa..?

Aku Anak Siapa..?


DARI : FATMAH DI PARE-PARE

asssalaamu'alaykum. Wr wb pendengar nurani yang baik ini adalah kisah hidupku, yang hingga saat ini masih belum bisa terhapus dari benakku, kisah perjalanan hidup seorang anak manusia, yang tidak pernah mengecap manisnya kasih sayang dari orang tua, jujur, meski aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan dari sisi materi, namun tak sedik
itpun kebahagiaan yang aku rasakan, entah mengapa, sejak kecil kedua orang tuaku sangat membenciku, bahkan mereka seolah sangat jijik padaku, padahal aku tidak sedang mengidap penyakit aneh, atau penyakit  menjijikan yang begitu menular, aku tak mengerti mengapa mereka bersikap begitu padaku, bukan saja sekali, tapi sejak usiaku masih belia.
Pendengar nurani yang setia sejak kecil, aku selalu mendapatkan perlakuan buruk dari kedua orang tua kandung sendiri, bahkan aku selalu diperlakukan bak seorang pembantu, yang dibebani dengan semua pekerjaan-pekerjaan rumah yang tiada pernah ada habisnya, betapa tidak, dengan tanpa mengenal waktu, aku dipaksa untuk mengurusi semua urusan rumah tanpa memberika waktu sedikitpun untuk istirahat atau belajar, semula aku mengira, bahwa mungkin aku hanyalah anak pungut, atau anak gembel yang mereka temukan dipinggiran jalan, semula bahkan aku mengira bahwa aku hanyalah anak yang dibuang oleh orang tua kandungku yang tak mau bertanggung jawab atas kelahiranku, sehingga tega menelantarkan aku begitu saja. Jujur, aku sering bertanya-tanya tentang siapa diriku sebenarnya, namun tak sedikitpun aku menemukan jawabnannya, yang ada selalu hanyalah beban bathin yang tak pernah ada habisnya.
Pendnegar nurani yang baik, memang kuakui, aku bukanlah gadis sempurnah, aku memangberbeda dari 2 sauadaraku lainnya, aku gadis cacat, yang kesehariannya harus beraktifitas dengan bantuan 2 tongkat penyangga agar membantuku untuk kokoh berdiri, tapi apakah karena semua ini sehingga aku harus menrima perlakuan buruk dari ayah dan ibu kandung sendiri?, sementara aku tak pernah berharap terlahir dengan kekurangan seperti ini, jujur, terkadang didepanku sendiri, kadang kepada para tamu dan koleganya, mama dan papa tidak mengakui aku sebagai anaknya, bahkan, dengan kejamnya mereka sering memperkenalkan aku sebagai pembantu kampungan yang dititipkan familinya dari kampung, mendengar semua itu hatiku sakit, perasaanku miris, begitu kejamnya kedua orang tuaku memperlakukan aku seperti ini, hingga untuk mengakui aku sebagai anaknyapun mereka begitu sangat malu, mungkin benar anggapanku selama ini, bahwa inilah alasan mengapa sejak lahir aku hanya diasuh oleh nenekku dikampung, sementara kedua adikku begitu hidup dan diberikebahagiaan oleh kedua orang tuaku, memang, aku baru setahun aku tinggal bersama mereka setelah meninggalnya nenekku dikampung. Hanya neneklah yang begitu tulusnya memberikan kasih sayangnya padaku, hnaya neneklah yang selalu memberiku semangat dan dukungan dengan segala kekurangan yang aku miliki saat ini, bahkan karena bekliaulah aku menjadi lebih tegar menghadapi hari-hariku, meskikupn aku sering dijauhi oleh teman-teman sebayaku saat itu, kufikir, meskipun aku terlahir dalam keadaan cacat, namun kebahagiaan tak akan berkurang dari hidupku laykanyakasih sayang yang diberkan nenek selama ini padaku, tapi ternyata, aku harus diperhadapkan pada sebuah kenyataan,
bahwa kedua orang tuaku senddiri yang justru tidak pernah mengharapakan kehadirannku, dan untuk semua ini, aku selalu berihlas hati menerimanya, walau jauh dari lubuk hatiku, perasaan ini sangat sakit, pendengar nurani yang baik, oleh nenek aku hanya bisa disekolahkan sampai tamat smp, itupun dengan segala kesusah payahannya dalam menghidupiku dan seluruh biaya yang aku perlukana, dan kau baru tahu, bahwa ternyata selama ini kedua orang tuaku tak pernah mebiayai hidupku, ternyata selama ini neneklah yang bersusah payah berjuang matia-matian untuk membuatku tersenyum. Tetapi akhirnya, senyum itu harus pupus dari hariku tak kala sebuah kenyataan pahit yang berkata, bahwa nenekku telah dipanggil oleh allah swt…, pendengar nurani yang baik terlalu sedih masa-masa yang kulewati selama ini setelah kepergian nenek, dulu, ketiak masih bersama nenek, masih ada orang yang menawarkan obat ketika aku sakit, masih ada yang menawarkan makanan ketika aku kelaparan.., tapi kini, meskipun aku sakit dalam kondisi yang teramat payah, aku harus melewatinya dengan linangan air mata, digudang kecil yang selama ini aku tempati, bahkan aku harus tidur dengan menahan sakit perut karena serinbg tak diberikan jatah makan, aku hanya bisa pasrah kepada allah, aku hanya bisa berserah diri kepadanya.., mungkin ini adalah ujian bagiku…, jujur, pernah 2 kali ditengah malam buta saat aku tertidur, ayahku berusaha memperkosaku, berusha merenggut kesucianku, bahkan beliau tega menghajarku dengan tanpa belas kali saat hasratnya tak bisa terbendung padaku, namun allah selalu saja menolongku dan menyelamatkan aku dari usaha-usaha bejat ayah, pernah aku sampaikan hal tersebut pada ibuku, tapi aku malah dipukulinya karena memfitnah suaminya, ya allah, cobaan apa yang saat ini engkau timpakan padaku.., aku hanya bisa menangis dan berpasrah diri pada allah swt, dan memohon petunjuk agar aku dijaga dari orang-orang yang akan mencelakaiku, apalagi kebejatan ayahku, kepada siapa lagi aku mengadu saat ini, aku tak memiliki siapapun selain keluargaku sendiri, tapi aku tak bisa berbuat apapun karena ternyata kelurgaku sendiri justru membenciku, jujur, ini adalah pertama kalinya aku mengadukan hal ini. Dan berharap agar ada kemudhan setelah ini, paling tidak aku tidak pesimis dalam hidup ini…atau bahkan bisa terlepas dari belenggu ujian ini..
Wassalam


DARI : FATMAH DI PARE-PARE

asssalaamu'alaykum. Wr wb pendengar nurani yang baik ini adalah kisah hidupku, yang hingga saat ini masih belum bisa terhapus dari benakku, kisah perjalanan hidup seorang anak manusia, yang tidak pernah mengecap manisnya kasih sayang dari orang tua, jujur, meski aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan dari sisi materi, namun tak sedik
itpun kebahagiaan yang aku rasakan, entah mengapa, sejak kecil kedua orang tuaku sangat membenciku, bahkan mereka seolah sangat jijik padaku, padahal aku tidak sedang mengidap penyakit aneh, atau penyakit  menjijikan yang begitu menular, aku tak mengerti mengapa mereka bersikap begitu padaku, bukan saja sekali, tapi sejak usiaku masih belia.
Pendengar nurani yang setia sejak kecil, aku selalu mendapatkan perlakuan buruk dari kedua orang tua kandung sendiri, bahkan aku selalu diperlakukan bak seorang pembantu, yang dibebani dengan semua pekerjaan-pekerjaan rumah yang tiada pernah ada habisnya, betapa tidak, dengan tanpa mengenal waktu, aku dipaksa untuk mengurusi semua urusan rumah tanpa memberika waktu sedikitpun untuk istirahat atau belajar, semula aku mengira, bahwa mungkin aku hanyalah anak pungut, atau anak gembel yang mereka temukan dipinggiran jalan, semula bahkan aku mengira bahwa aku hanyalah anak yang dibuang oleh orang tua kandungku yang tak mau bertanggung jawab atas kelahiranku, sehingga tega menelantarkan aku begitu saja. Jujur, aku sering bertanya-tanya tentang siapa diriku sebenarnya, namun tak sedikitpun aku menemukan jawabnannya, yang ada selalu hanyalah beban bathin yang tak pernah ada habisnya.
Pendnegar nurani yang baik, memang kuakui, aku bukanlah gadis sempurnah, aku memangberbeda dari 2 sauadaraku lainnya, aku gadis cacat, yang kesehariannya harus beraktifitas dengan bantuan 2 tongkat penyangga agar membantuku untuk kokoh berdiri, tapi apakah karena semua ini sehingga aku harus menrima perlakuan buruk dari ayah dan ibu kandung sendiri?, sementara aku tak pernah berharap terlahir dengan kekurangan seperti ini, jujur, terkadang didepanku sendiri, kadang kepada para tamu dan koleganya, mama dan papa tidak mengakui aku sebagai anaknya, bahkan, dengan kejamnya mereka sering memperkenalkan aku sebagai pembantu kampungan yang dititipkan familinya dari kampung, mendengar semua itu hatiku sakit, perasaanku miris, begitu kejamnya kedua orang tuaku memperlakukan aku seperti ini, hingga untuk mengakui aku sebagai anaknyapun mereka begitu sangat malu, mungkin benar anggapanku selama ini, bahwa inilah alasan mengapa sejak lahir aku hanya diasuh oleh nenekku dikampung, sementara kedua adikku begitu hidup dan diberikebahagiaan oleh kedua orang tuaku, memang, aku baru setahun aku tinggal bersama mereka setelah meninggalnya nenekku dikampung. Hanya neneklah yang begitu tulusnya memberikan kasih sayangnya padaku, hnaya neneklah yang selalu memberiku semangat dan dukungan dengan segala kekurangan yang aku miliki saat ini, bahkan karena bekliaulah aku menjadi lebih tegar menghadapi hari-hariku, meskikupn aku sering dijauhi oleh teman-teman sebayaku saat itu, kufikir, meskipun aku terlahir dalam keadaan cacat, namun kebahagiaan tak akan berkurang dari hidupku laykanyakasih sayang yang diberkan nenek selama ini padaku, tapi ternyata, aku harus diperhadapkan pada sebuah kenyataan,
bahwa kedua orang tuaku senddiri yang justru tidak pernah mengharapakan kehadirannku, dan untuk semua ini, aku selalu berihlas hati menerimanya, walau jauh dari lubuk hatiku, perasaan ini sangat sakit, pendengar nurani yang baik, oleh nenek aku hanya bisa disekolahkan sampai tamat smp, itupun dengan segala kesusah payahannya dalam menghidupiku dan seluruh biaya yang aku perlukana, dan kau baru tahu, bahwa ternyata selama ini kedua orang tuaku tak pernah mebiayai hidupku, ternyata selama ini neneklah yang bersusah payah berjuang matia-matian untuk membuatku tersenyum. Tetapi akhirnya, senyum itu harus pupus dari hariku tak kala sebuah kenyataan pahit yang berkata, bahwa nenekku telah dipanggil oleh allah swt…, pendengar nurani yang baik terlalu sedih masa-masa yang kulewati selama ini setelah kepergian nenek, dulu, ketiak masih bersama nenek, masih ada orang yang menawarkan obat ketika aku sakit, masih ada yang menawarkan makanan ketika aku kelaparan.., tapi kini, meskipun aku sakit dalam kondisi yang teramat payah, aku harus melewatinya dengan linangan air mata, digudang kecil yang selama ini aku tempati, bahkan aku harus tidur dengan menahan sakit perut karena serinbg tak diberikan jatah makan, aku hanya bisa pasrah kepada allah, aku hanya bisa berserah diri kepadanya.., mungkin ini adalah ujian bagiku…, jujur, pernah 2 kali ditengah malam buta saat aku tertidur, ayahku berusaha memperkosaku, berusha merenggut kesucianku, bahkan beliau tega menghajarku dengan tanpa belas kali saat hasratnya tak bisa terbendung padaku, namun allah selalu saja menolongku dan menyelamatkan aku dari usaha-usaha bejat ayah, pernah aku sampaikan hal tersebut pada ibuku, tapi aku malah dipukulinya karena memfitnah suaminya, ya allah, cobaan apa yang saat ini engkau timpakan padaku.., aku hanya bisa menangis dan berpasrah diri pada allah swt, dan memohon petunjuk agar aku dijaga dari orang-orang yang akan mencelakaiku, apalagi kebejatan ayahku, kepada siapa lagi aku mengadu saat ini, aku tak memiliki siapapun selain keluargaku sendiri, tapi aku tak bisa berbuat apapun karena ternyata kelurgaku sendiri justru membenciku, jujur, ini adalah pertama kalinya aku mengadukan hal ini. Dan berharap agar ada kemudhan setelah ini, paling tidak aku tidak pesimis dalam hidup ini…atau bahkan bisa terlepas dari belenggu ujian ini..
Wassalam

Aku Anak Siapa..?
Selengkapnya
Kemuliaan Shalat Lima Waktu

Kemuliaan Shalat Lima Waktu


Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat serta salam kita haturkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir hayatnya.

Wa ba’du

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaahaa : 14).
Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raaf : 205).
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya." (QS. Al-Mu’minuun : 1-2).


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

” Perumpamaan shalat lima waktu sama dengan sebuah sungai yang banyak airnya mengalir didepan pintu rumah seseorang diantara kamu, ia mandi didalamnya setiap hari sebanyak lima kali, maka sudah barang tentu tiada suatu kotoran pun yang tersisa pada tubuhnya. “

” Perumpamaan shalat fardhu sama seperti timbangan, barangsiapa yang memenuhi shalatnya, akan dipenuhilah timbangan amalnya. “


Shalat merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hambanya yang diberikan melalui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang wajib didirikan dan dipelihara, karena shalat merupakan salah satu rukun islam, jadi apabila kita meninggalkannya maka tidaklah sah keislaman kita. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

Barangsiapa menjaga shalatnya, niscaya dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan 5 kemuliaan :

1. Allah Subhanahu wa Ta'ala menghilangkan kesulitan hidupnya
2. Allah Subhanahu wa Ta'ala mehilangkan siksa kubur darinya
3. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanannya
4. Dia akan melewati sirath bagaikan kilat
5. Dan Akan masuk syurga tanpa hisab

Dan barangsiapa menyepelekan shalat, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengazabnya dengan lima belas siksaan : 6 siksaan ketika didunia, 3 siksaan ketika mati, 3 siksaan ketika masuk liang kubur dan 3 siksaan ketika bertemu dengan Tuhannya (akhirat).

Adapun siksa didunia adalah :

1. Dicabut keberkahan umurnya
2. Dihapus tanda orang shaleh dari wajahnya
3. Setiap amal yang dikerjakan tidak diberi pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala
4. Tidak diterima do’anya
5. Tidak termasuk bagian do’anya orang orang shaleh
6. Keluar ruhnya (mati) tanpa membawa iman

Adapun siksa ketika akan mati :

1. Mati dalam keadaan hina
2. Mati dalam keadaan lapar
3. Mati dalam keadaan haus, yang seandainya diberikan semua air laut tidak akan menghilangkan rasa hausnya

Adapun siksa kubur :

1. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyempitkan liang kuburnya sehingga bersilang tulang rusuknya
2. Tubuhnya dipanggang diatas bara api siang dan malam
3. Dalam kuburnya terdapat ular yang bernama suja’ul aqro’ yang akan menerkamnya karena menyia nyiakan shalat. Ular itu akan menyiksanya, yang lamanya sesuai dengan waktu shalat

Siksa yang menimpanya ketika bertemu Tuhan :

1. Ketika langit terbuka, malaikat datang kepadanya dengan membawa rantai. Rantai itu digantungkan kelehernya, kemudian dimasukan kedalam mulutnya dan keluar dari duburnya, lalu malaikat mengumumkan : ” ini adalah balasan orang yang menyepelekan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. “
2. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memandang kepadanya dengan pandangan kasih sayangNya
3. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mensucikannya dan baginya siksa yang pedih

Menjadi hitam pada hari kiamat wajah orang yang meninggalkan shalat, dan sesungguhnya didalam neraka jahanam terdapat jurang yang disebut “ lam lam “. Didalamnya terdapat banyak ular, setiap ular itu sebesar leher unta, panjangnya sepanjang perjalanan sebulan. Ular itu menyengat sampai mendidih bisanya dalam tubuh orang itu selama tujuh puluh tahun kemudian membusuk dagingnya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda :

” Tidak sekali-kali seorang hamba dianugerahi suatu pemberian yang lebih baik selain daripada diadzankan untuknya guna melakukan shalat dua rakaat. “

Wahai saudara/saudariku sudah sepantasnyalah kita patut mensyukuri atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita, dan cara mensyukurinya ialah dengan mendirikan shalat lengkap dengan semua persyaratan dan batasan-batasannya !!

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin


Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,

Afwan minkum, kurang dan khilaf mohon sangat di maafkan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

•Salam santun erat silaturrahim & ukhuwah fillah•

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat serta salam kita haturkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir hayatnya.

Wa ba’du

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaahaa : 14).
Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raaf : 205).
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya." (QS. Al-Mu’minuun : 1-2).


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

” Perumpamaan shalat lima waktu sama dengan sebuah sungai yang banyak airnya mengalir didepan pintu rumah seseorang diantara kamu, ia mandi didalamnya setiap hari sebanyak lima kali, maka sudah barang tentu tiada suatu kotoran pun yang tersisa pada tubuhnya. “

” Perumpamaan shalat fardhu sama seperti timbangan, barangsiapa yang memenuhi shalatnya, akan dipenuhilah timbangan amalnya. “


Shalat merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hambanya yang diberikan melalui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang wajib didirikan dan dipelihara, karena shalat merupakan salah satu rukun islam, jadi apabila kita meninggalkannya maka tidaklah sah keislaman kita. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

Barangsiapa menjaga shalatnya, niscaya dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan 5 kemuliaan :

1. Allah Subhanahu wa Ta'ala menghilangkan kesulitan hidupnya
2. Allah Subhanahu wa Ta'ala mehilangkan siksa kubur darinya
3. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanannya
4. Dia akan melewati sirath bagaikan kilat
5. Dan Akan masuk syurga tanpa hisab

Dan barangsiapa menyepelekan shalat, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengazabnya dengan lima belas siksaan : 6 siksaan ketika didunia, 3 siksaan ketika mati, 3 siksaan ketika masuk liang kubur dan 3 siksaan ketika bertemu dengan Tuhannya (akhirat).

Adapun siksa didunia adalah :

1. Dicabut keberkahan umurnya
2. Dihapus tanda orang shaleh dari wajahnya
3. Setiap amal yang dikerjakan tidak diberi pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala
4. Tidak diterima do’anya
5. Tidak termasuk bagian do’anya orang orang shaleh
6. Keluar ruhnya (mati) tanpa membawa iman

Adapun siksa ketika akan mati :

1. Mati dalam keadaan hina
2. Mati dalam keadaan lapar
3. Mati dalam keadaan haus, yang seandainya diberikan semua air laut tidak akan menghilangkan rasa hausnya

Adapun siksa kubur :

1. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyempitkan liang kuburnya sehingga bersilang tulang rusuknya
2. Tubuhnya dipanggang diatas bara api siang dan malam
3. Dalam kuburnya terdapat ular yang bernama suja’ul aqro’ yang akan menerkamnya karena menyia nyiakan shalat. Ular itu akan menyiksanya, yang lamanya sesuai dengan waktu shalat

Siksa yang menimpanya ketika bertemu Tuhan :

1. Ketika langit terbuka, malaikat datang kepadanya dengan membawa rantai. Rantai itu digantungkan kelehernya, kemudian dimasukan kedalam mulutnya dan keluar dari duburnya, lalu malaikat mengumumkan : ” ini adalah balasan orang yang menyepelekan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. “
2. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memandang kepadanya dengan pandangan kasih sayangNya
3. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mensucikannya dan baginya siksa yang pedih

Menjadi hitam pada hari kiamat wajah orang yang meninggalkan shalat, dan sesungguhnya didalam neraka jahanam terdapat jurang yang disebut “ lam lam “. Didalamnya terdapat banyak ular, setiap ular itu sebesar leher unta, panjangnya sepanjang perjalanan sebulan. Ular itu menyengat sampai mendidih bisanya dalam tubuh orang itu selama tujuh puluh tahun kemudian membusuk dagingnya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda :

” Tidak sekali-kali seorang hamba dianugerahi suatu pemberian yang lebih baik selain daripada diadzankan untuknya guna melakukan shalat dua rakaat. “

Wahai saudara/saudariku sudah sepantasnyalah kita patut mensyukuri atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita, dan cara mensyukurinya ialah dengan mendirikan shalat lengkap dengan semua persyaratan dan batasan-batasannya !!

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin


Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,

Afwan minkum, kurang dan khilaf mohon sangat di maafkan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

•Salam santun erat silaturrahim & ukhuwah fillah•
Kemuliaan Shalat Lima Waktu
Selengkapnya
Pentingnya Menahan Lisan

Pentingnya Menahan Lisan


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sahabat saudaraku fillah yang di rahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Nikmat Allah yang terlimpah kepada kita tiada terbilang hingga pun kita tidak akan mampu menghitungnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Dan jika kalian ingin menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim: 34)
Dia Yang Maha Suci juga berfirman: “Dan Dia telah mencurahkan nikmat-Nya yang lahir dan yang batin kepada kalian.” (Luqman: 20)
Saudariku, Di antara sekian banyak nikmat-Nya adalah lisan atau lidah yang dengannya seorang hamba dapat mengungkapkan keinginan jiwanya.
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, lisan, dan dua bibir?” (Al-Balad: 8-9)
Dengan lisan ini, seorang hamba dapat terangkat derajatnya dengan beroleh kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaliknya, ia juga dapat tersungkur ke jurang jahannam dengan sebab lisannya. Rasul yang mulia Shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari no. 6478)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)
Dalam riwayat Muslim:
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“…lebih jauh daripada antara timur dan barat.”
Yang disesalkan dari keberadaan kita, kaum hawa, sering menyalahgunakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berupa lisan ini. Lisan dilepaskan begitu saja tanpa penjagaan sehingga keluar darinya kalimat-kalimat yang membinasakan pengucapnya. Ghibah, namimah, dusta, mengumpat, mencela dan teman-temannya, biasa terucap. Terasa ringan tanpa beban, seakan tiada balasan yang akan diperoleh. Membicarakan cacat/cela seseorang, menjatuhkan kehormatan seorang muslim, seakan jadi santapan lezat bagi yang namanya lisan. Padahal Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6484 dan Muslim no. 161)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kaum muslimin selamat dari lisannya di mana ia tidak mencela mereka, tidak melaknat mereka, tidak mengghibah dan menyebarkan namimah di antara mereka, tidak menyebarkan satu macam kejelekan dan kerusakan di antara mereka. Ia benar-benar menahan lisannya. Menahan lisan ini termasuk perkara yang paling berat dan paling sulit bagi seseorang. Sebaliknya, begitu gampangnya seseorang melepas lisannya.”
Beliau juga menyatakan, “Lisan termasuk anggota tubuh yang paling besar bahayanya bagi seseorang. Karena itulah, bila seseorang berada di pagi harinya maka anggota tubuhnya yang lain, dua tangan, dua kaki, dua mata dan seluruh anggota yang lain mengingkari lisan. Demikian pula kemaluan, karena pada kemaluan ada syahwat nikah dan pada lisan ada syahwat kalam (berbicara). Sedikit orang yang selamat dari dua syahwat ini. Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisannya, yakni ia menahan lisannya dari mereka. Tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Ia tidak mencaci, tidak mengghibah, tidak berbuat namimah dan tidak menebarkan permusuhan di antara manusia. Dia adalah orang yang memberikan rasa aman kepada orang lain. Bila ia mendengar kejelekan, ia menjaga lisannya. Tidak seperti yang dilakukan sebagian manusia –wal ‘iyadzubillah– bila mendengar kejelekan saudaranya sesama muslim, ia melonjak kegirangan kemudian ia menyebarkan kejelekan itu di negerinya. Orang seperti ini bukanlah seorang muslim (yang sempurna imannya).” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/764)
Lisan yang berpenyakit seperti ini banyak diderita oleh kaum hawa, sehingga mereka harus banyak-banyak diperingatkan untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam perkara lisan mereka. Ketahuilah, karena bahayanya lisan bila tidak dijaga oleh pemiliknya, Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam sampai menjamin surga bagi orang yang dapat menjaga lisan dan kemaluannya. Sahl bin Sa’d menyampaikan sabda Rasulullah:
“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yaitu lisan)1 dan apa yang ada di antara dua kakinya (yaitu kemaluan)2 maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhari no. 6474)
Bila engkau tidak dapat berkata yang baik, maka diamlah niscaya itu lebih selamat. Karenanya, Rasul yang mulia Sallallahu`alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 6475 dan Muslim)
Al-Imam Al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radiyallahu`anhu bahwasanya Nabi Sallallahu`alaihi wa sallam mengisyaratkan ke bibirnya dan berkata:
“Diamlah kecuali dari perkataan yang baik.” Mu’adz bertanya kepada Rasulullah, “Apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang diucapkan oleh lisan-lisan kita?” Rasulullah memukul paha Mu’adz, kemudian bersabda, “Wahai Mu’adz, ibumu kehilangan kamu3”, atau beliau mengucapkan kepada Mu’adz apa yang Allah kehendaki dari ucapan. “Bukankah manusia ditelungkupkan di atas hidung mereka ke dalam jahannam tidak lain disebabkan karena apa yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka? Karenanya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau ia diam dari berkata yang jelek. Ucapkanlah kebaikan niscaya kalian akan menuai kebaikan dan diamlah dari berkata yang jelek niscaya kalian akan selamat.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 1/460)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menasihatkan, “Sepantasnya bagi orang yang ingin mengucapkan satu kata atau satu kalimat, ia merenungkan dan memikirkan kata/kalimat tersebut dalam jiwanya sebelum mengucapkannya. Bila memang tampak kemaslahatan dan kebaikannya maka ia berbicara. Bila tidak, maka sebaiknya ia menahan lisannya.” (Al-Minhaj, 18/318)
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/339-340) menukilkan ucapan tiga sahabat yang mulia berikut ini:
‘Umar ibnul Khaththab radiyallahu anhu berkata, “Siapa yang banyak bicaranya akan banyak jatuhnya (dalam kesalahan). Siapa yang banyak jatuhnya, akan banyak dosanya. Dan siapa yang banyak dosanya niscaya neraka lebih pantas baginya.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq memegang lisannya dan berkata, “Ini yang akan mengantarkan aku ke neraka.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Dia! Tidak ada di muka bumi ini yang lebih pantas untuk dipenjara dalam waktu yang panjang daripada lisan.”
Ingatlah saudariku, dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)
Al-Hafizh Ibnu Katsir tmenukilkan perkataan Ibnu Abbas tentang ayat di atas, “Malaikat itu mencatat setiap apa yang diucapkannya berupa kebaikan atau pun kejelekan.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 7/308)
Ingatlah, semuanya tercatat dan tersimpan dalam catatan amalmu. Maka berbahagialah engkau bila catatan amalmu dipenuhi dengan kebaikan, ucapan yang baik dan amal shalih. Tentunya janji Allah Subhanahu wa Ta'alaberupa surga kan menanti…
Sebaliknya celaka engkau bila catatan amalmu dipenuhi ucapan kosong, sia-sia lagi mengandung dosa dan amal yang buruk. Tentunya ancaman neraka menanti…
Bila demikian keadaannya ke mana engkau hendak menuju, ke surga ataukah ke neraka? Tentu tanpa ragu engkau ingin menjadi penghuni surga. Maka, jangan biarkan lisanmu menggelincirkanmu ke dalam jurang kebinasaan yang tiada bertepi.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
**
1. Maksudnya, ia menunaikan kewajiban lisannya berupa mengucapkan apa yang wajib diucapkannya atau diam dalam perkara yang tidak bermanfaat.
2. Ia menunaikan kewajiban kemaluannya dengan diletakkan pada tempat yang halal dan menahannya dari yang haram. Demikian diterangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/374-375).
3. Kalimat seperti ini biasa diucapkan orang-orang Arab namun mereka tidak memaksudkan maknanya.
Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,

Salam santun erat silaturrahim & ukhuwah fillah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sahabat saudaraku fillah yang di rahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Nikmat Allah yang terlimpah kepada kita tiada terbilang hingga pun kita tidak akan mampu menghitungnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Dan jika kalian ingin menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim: 34)
Dia Yang Maha Suci juga berfirman: “Dan Dia telah mencurahkan nikmat-Nya yang lahir dan yang batin kepada kalian.” (Luqman: 20)
Saudariku, Di antara sekian banyak nikmat-Nya adalah lisan atau lidah yang dengannya seorang hamba dapat mengungkapkan keinginan jiwanya.
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, lisan, dan dua bibir?” (Al-Balad: 8-9)
Dengan lisan ini, seorang hamba dapat terangkat derajatnya dengan beroleh kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaliknya, ia juga dapat tersungkur ke jurang jahannam dengan sebab lisannya. Rasul yang mulia Shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari no. 6478)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)
Dalam riwayat Muslim:
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“…lebih jauh daripada antara timur dan barat.”
Yang disesalkan dari keberadaan kita, kaum hawa, sering menyalahgunakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berupa lisan ini. Lisan dilepaskan begitu saja tanpa penjagaan sehingga keluar darinya kalimat-kalimat yang membinasakan pengucapnya. Ghibah, namimah, dusta, mengumpat, mencela dan teman-temannya, biasa terucap. Terasa ringan tanpa beban, seakan tiada balasan yang akan diperoleh. Membicarakan cacat/cela seseorang, menjatuhkan kehormatan seorang muslim, seakan jadi santapan lezat bagi yang namanya lisan. Padahal Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6484 dan Muslim no. 161)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kaum muslimin selamat dari lisannya di mana ia tidak mencela mereka, tidak melaknat mereka, tidak mengghibah dan menyebarkan namimah di antara mereka, tidak menyebarkan satu macam kejelekan dan kerusakan di antara mereka. Ia benar-benar menahan lisannya. Menahan lisan ini termasuk perkara yang paling berat dan paling sulit bagi seseorang. Sebaliknya, begitu gampangnya seseorang melepas lisannya.”
Beliau juga menyatakan, “Lisan termasuk anggota tubuh yang paling besar bahayanya bagi seseorang. Karena itulah, bila seseorang berada di pagi harinya maka anggota tubuhnya yang lain, dua tangan, dua kaki, dua mata dan seluruh anggota yang lain mengingkari lisan. Demikian pula kemaluan, karena pada kemaluan ada syahwat nikah dan pada lisan ada syahwat kalam (berbicara). Sedikit orang yang selamat dari dua syahwat ini. Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisannya, yakni ia menahan lisannya dari mereka. Tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Ia tidak mencaci, tidak mengghibah, tidak berbuat namimah dan tidak menebarkan permusuhan di antara manusia. Dia adalah orang yang memberikan rasa aman kepada orang lain. Bila ia mendengar kejelekan, ia menjaga lisannya. Tidak seperti yang dilakukan sebagian manusia –wal ‘iyadzubillah– bila mendengar kejelekan saudaranya sesama muslim, ia melonjak kegirangan kemudian ia menyebarkan kejelekan itu di negerinya. Orang seperti ini bukanlah seorang muslim (yang sempurna imannya).” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/764)
Lisan yang berpenyakit seperti ini banyak diderita oleh kaum hawa, sehingga mereka harus banyak-banyak diperingatkan untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam perkara lisan mereka. Ketahuilah, karena bahayanya lisan bila tidak dijaga oleh pemiliknya, Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam sampai menjamin surga bagi orang yang dapat menjaga lisan dan kemaluannya. Sahl bin Sa’d menyampaikan sabda Rasulullah:
“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yaitu lisan)1 dan apa yang ada di antara dua kakinya (yaitu kemaluan)2 maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhari no. 6474)
Bila engkau tidak dapat berkata yang baik, maka diamlah niscaya itu lebih selamat. Karenanya, Rasul yang mulia Sallallahu`alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 6475 dan Muslim)
Al-Imam Al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radiyallahu`anhu bahwasanya Nabi Sallallahu`alaihi wa sallam mengisyaratkan ke bibirnya dan berkata:
“Diamlah kecuali dari perkataan yang baik.” Mu’adz bertanya kepada Rasulullah, “Apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang diucapkan oleh lisan-lisan kita?” Rasulullah memukul paha Mu’adz, kemudian bersabda, “Wahai Mu’adz, ibumu kehilangan kamu3”, atau beliau mengucapkan kepada Mu’adz apa yang Allah kehendaki dari ucapan. “Bukankah manusia ditelungkupkan di atas hidung mereka ke dalam jahannam tidak lain disebabkan karena apa yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka? Karenanya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau ia diam dari berkata yang jelek. Ucapkanlah kebaikan niscaya kalian akan menuai kebaikan dan diamlah dari berkata yang jelek niscaya kalian akan selamat.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 1/460)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menasihatkan, “Sepantasnya bagi orang yang ingin mengucapkan satu kata atau satu kalimat, ia merenungkan dan memikirkan kata/kalimat tersebut dalam jiwanya sebelum mengucapkannya. Bila memang tampak kemaslahatan dan kebaikannya maka ia berbicara. Bila tidak, maka sebaiknya ia menahan lisannya.” (Al-Minhaj, 18/318)
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/339-340) menukilkan ucapan tiga sahabat yang mulia berikut ini:
‘Umar ibnul Khaththab radiyallahu anhu berkata, “Siapa yang banyak bicaranya akan banyak jatuhnya (dalam kesalahan). Siapa yang banyak jatuhnya, akan banyak dosanya. Dan siapa yang banyak dosanya niscaya neraka lebih pantas baginya.”
Abu Bakar Ash-Shiddiq memegang lisannya dan berkata, “Ini yang akan mengantarkan aku ke neraka.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Dia! Tidak ada di muka bumi ini yang lebih pantas untuk dipenjara dalam waktu yang panjang daripada lisan.”
Ingatlah saudariku, dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)
Al-Hafizh Ibnu Katsir tmenukilkan perkataan Ibnu Abbas tentang ayat di atas, “Malaikat itu mencatat setiap apa yang diucapkannya berupa kebaikan atau pun kejelekan.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 7/308)
Ingatlah, semuanya tercatat dan tersimpan dalam catatan amalmu. Maka berbahagialah engkau bila catatan amalmu dipenuhi dengan kebaikan, ucapan yang baik dan amal shalih. Tentunya janji Allah Subhanahu wa Ta'alaberupa surga kan menanti…
Sebaliknya celaka engkau bila catatan amalmu dipenuhi ucapan kosong, sia-sia lagi mengandung dosa dan amal yang buruk. Tentunya ancaman neraka menanti…
Bila demikian keadaannya ke mana engkau hendak menuju, ke surga ataukah ke neraka? Tentu tanpa ragu engkau ingin menjadi penghuni surga. Maka, jangan biarkan lisanmu menggelincirkanmu ke dalam jurang kebinasaan yang tiada bertepi.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
**
1. Maksudnya, ia menunaikan kewajiban lisannya berupa mengucapkan apa yang wajib diucapkannya atau diam dalam perkara yang tidak bermanfaat.
2. Ia menunaikan kewajiban kemaluannya dengan diletakkan pada tempat yang halal dan menahannya dari yang haram. Demikian diterangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/374-375).
3. Kalimat seperti ini biasa diucapkan orang-orang Arab namun mereka tidak memaksudkan maknanya.
Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,

Salam santun erat silaturrahim & ukhuwah fillah
Pentingnya Menahan Lisan
Selengkapnya
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. catatan wahidah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger